Selasa, 08 Juni 2010

prosedur teknik pengelasan

PROSEDUR DAN TEKNIK PENGELASAN
Prosedur pengelasan adalah suatu perencanaan untuk melaksanakan pengelasan yang meliputi cara pembuatan kontruksi las yang sesuai dengan rencana dan spesifikasinya dengan menentukan semua hal yang diperlukan dalam pelaksanaan tersebut. Karena itu mereka yang menentukan prosedur pengelasan harus mempunyai pengetahuan tentang teknolgi las, dapat menggunakan pengetahuan tersebut dan mengerti tentang efisiensi dan ekonomi dari aktivitas produksi. Untuk setiap pelaksanaan pekerjaan harus dibuat prosedur tersendiri secara terperinci termasuk menentukan alat yang diperlukan yang sesuai dengan rencana pembuatan dan kwalitas produksi. Di bawah ini akan direrangkan cara –cara dasar dalam membuat prosedur pengelasan untuk kontruksi baja pada umumnya.
A. Perencanaan Prosedur Pengelasan
Prosedur pengelasan akan memberikan hasil yang baik bila sebelumnya telah dibuat rencana tentang jadwal pembuatan, persiapan pengelasan, perlakuan setelah pengelasan, pengaturan pekerjaan dll. Berdasarkan rencana kontruksi biasanya dibuat penjadwalan secara menyeluruh dengan mempelajari urutan perakitan, banyaknya pekerjaan las yang diperluakan, kapasitas dari alat alat yang ada , kerja yang diperlukan dsb.
Dalam memilih proses pengelasan harus dititk beratkan pada proses yang paling sesuai untuk tiap- tiap sambungan las yang ada pada kontruksi. Dalam hal ini tentu dasarnya adalah efisiensi yang tinggi, biaya yang murah, penghematan tenaga dan penghematan energi sejauh mungkin. Proses pengelasan yang di pilih harus sudah ditentukan dalam tahap perencanaan kontruksi. Bila proses pengelasan telah ditentukan untuk tiap-tiap sambungan, maka tahap berikutnya adalah menentukan syarat-syarat pengelasan, urutan pengelasan dan persiapan pengelasan. Baru setelah itu harus di tentukan cara-cara menghilangkan deformasi dan laku panas yang diperlukan.
B. Pengelasan
1. Hal-hal umum
Mutu dari hasil pengelasan disamping tergantung dari pengerjaan las nya sendiri juga sangat tergantung dari persiapannya sebelum melaksanakan pengelasan. karena itu persiapan pengelasan harus mendapatkan perhatian dan pengawasan yang sama dengan pelaksanaan pengelasan. Persiapan umum dalam pengelasan meliputi penyediaan bahan, pemilihan mesin las, penunjukan juru las, penentuan alat perakit dan beberapa hal lain nya lagi.
Juru las yang ditunjuk harus mempunyai pengetahuan, keterampilan dan kwalifikasi yang sesuai dengan proses-proses pengelasan yang telah dipilih. disamping keterampilan yang baik juga perlu diperhatikan tabiat dari juru las yang akan dipilih.
Dalam menentukan alat-alat, disamping menentukan mesin las nya sendiri, hal yang juga tidak kalah pentungnya adalah penentuan alat perakit / alat bantu. Alat perakit ini adalah alat-alat khusus yang dapat memegang dengan kuat bagian-bagian yang akan di las sehingga hasil pengelasan mempunyai membentuk yang tepat. Jadi pemilihan alat bantu yang tepat akan menentukan ketelitian bentuk akhir dan akan mengurangi waktu pengeelasan.
2. Persiapan Bagian Yang Akan Dilas
a. Persiapan sisi las
Setelah penentuan proses pengelasan, maka geometri sambungan harus ditentukan dengan memperhatikan dengan tingkatan teknik dari bagian pembuatan, sifat kemampuan pengerjaannya dan kemungkinan penghematan yang akgirnya tertuju pada bentuk alur. Pada umumnya untuk pengelasan pelat dengan tebal sampai 6 mm digunakan alur persegi, untuk pelat dengan tebal antara 6 mm sampai 20 mm digunakan alur V tunggal dan yang lebih tebal lagi dengan alur V ganda atau U tunggal atau ganda dsb.
Pembuatan alur-alur ini dapat dilakukan secara termal dengan alat pemotong gas atau dingin dengan mesin. Suatu contoh syarat-syarat pemotongan dengan gas dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.






Beberapa parameter pemotongan dengan gas.
(a) Pemotongan dengan tangan (unutk baja tanpa pemanasan mula)
Tebal pelat (mm) Diameter lubang pembakar (mm) Tekanan gas (kg/cm2) Laju potong(2) (cm/men) Pemakaian gas (m3/jam)
Oksigen(1) Asetilen Oksigen asetilen
3
6
9
12
19
25
38
50
75
100
125
150
200
250
300 0,5-1,0
0,8-1,5
0,8-1,5
1,0-1,5
1,2-1,5
1,2-1,5
1,5-2,1
1,7-2,1
1,7-2,1
2,1-2,2
2,1-2,2
2,5
2,5-2,8
2,5-2,8
2,5-3,0 1,0-2,1
1,1-1,4
1,2-2,1
1,4-2,2
1,7-2,5
2,0-2,8
2,1-3,2
1,6-3,5
2,3-3,9
3,0-4,0
3,9-4,9
4,5-5,6
4,0-5,4
4,6-6,8
4,1-6,0 0,21
0,21
0,21
0,21
0,21
0,21
0,21
0,21
0,28
0,28
0,35
0,35
0,42
0,42
0,42 510-760
410-660
380-610
305-560
305-510
230-460
150-305
150-330
100-255
100-210
90-160
75-140
65-110
50-80
35-65 0,5-1,6
1,0-2,6
1,3-3,3
1,9-3,6
3,3-4,1
3,7-4,5
4,2-6,4
5,2-6,5
5,9-8,2
6,7-11,0
7,9-12,3
11,3-16,1
14,3-17,7
17,3-21,2
20,4-26,2 0,17-0,26
0,19-0,31
0,19-0,34
0,28-0,37
0,34-0,43
0,37-0,45
0,43-0,57
0,45-0,57
0,45-0,65
0,57-0,74
0,57-0,82
0,71-0,90
0,85-1,10
1,02-1,30
1,19-1,55









(b) Pemotongan automatik (untuk baja tanpa pemanasan mula)
Tebal pelat (mm) Diameter lubang pembakar (mm) Tekanan gas (kg/cm2) Laju potong(2) (cm/men) Pemakaian gas (m3/jam)
Oksigen(1) Asetilen Oksigen Asetilen
3
6
9
12
19
25
38
50
75
100
125
150
200
250
300
350
400
450
500 0,5-1,0
0,8-1,5
0,8-1,5
0,8-1,5
1,0-1,5
1,2-1,5
1,7-2,1
1,7-2,1
2,1-2,2
2,1-2,2
2,1-2,2
2,5
2,5
2,5-2,8
2,8-3,0
2,8-3,0
3,2-4,0
3,7-4,0
4,0-5,0 1,0-2,1
1,1-1,4
1,2-2,8
1,4-3,8
1,7-3,5
1,9-3,8
1,6-3,8
1,6-3,8
2,1-3,5
2,8-4,2
3,5-4,5
3,1-4,5
4,2-6,3
4,9-6,3
4,8-7,4
7,4
7,7
8,4
9,5 0,21
0,21
0,21
0,21
0,21
0,21
0,21
0,21
0,28
0,28
0,35
0,35
0,42
0,42
0,42
0,42
0,49
0,49
0,49 560-810
510-710
480-660
430-610
380-560
350-480
300-380
250-350
200-380
160-230
140-190
110-170
90-120
70-100
60-90
50-80
45-75
43-75
38-75 0,5-1,6
1,0-2,6
1,3-3,3
1,8-3,5
3,3-4,5
3,7-4,9
5,2-6,8
5,2-7,4
5,9-9,4
8,3-10,9
9,8-11,6
11,3-13,9
14,4-17,7
17,3-21,2
20,4-24,9
23,5-29,6
26,5-38,6
29,6-47,7
32,8-58,2 0,14-0,26
0,17-0,31
0,17-0,34
0,23-0,37
0,34-0,43
0,37-0,45
0,39-0,51
0,45-0,57
0,45-0,65
0,59-0,74
0,65-0,82
0,74-0,91
0,88-1,10
1,05-1,27
1,19-1,47
1,36-1,67
1,62-1,99
1,84-2,35
2,12-2,81

b. Posisi pengelasan dan alat pemegang
Posisi pengelasan yang terbaik dilihat dari sudut kwalitas sambungan dan efisiensi pengelasan adalah posisi datar. Karena itu dalam menentukan urutan perakitan, landasan perakitan dan alat perakit harus mengusahakan sejauh mungkin menggunakan posisi datar.


Tujuan menggunakan alat perakit atau alat bantu adalah :
1. Memungkinkan pelaksanaan pengelsan posisi datar sebanyak-banyaknya
2. Menehan dan menghalangi perubahan bentuk mula untuk mendapatkan ketepatan bentuk yang lebih tinggi.
3. Memperbaiki efisiensi dengan memudahkan dengan pelaksanaan pengelasan atau memungkinkan pengelasan otomatik dalam hal produksi besar-besaran
Alat perakit yang memenuhi tujuan pertama adalah alat -alat pemutar, kedua adalah alat- penjepit, ketiga adalah alat- alat penyetel. Dengan alat-alat perakit tidak diperlukan lagi penendaan dan penggunaan las ikat pada bagian- bagian yang akan dilas. Karena itu alat perakit merupakan alat yang penting dalam tahap perakitan mula.
c. Las ikat dan perakitan
Bagian –bagian yang telah dipersiapkan kemudian distel untuk dirakit. Dalam penyetelan harus diusahakan agar setelah selesai pelaksanaan las ikat jarak antara bagian bagian yang akan dilas terutama celah akarnya tidak berubah.
Dalam perakitan hal yang paling penting adalah urutanya, yang memungkinkan agar semua pengelasan dapat dilakukan dengan perubahan bentuk dan tegangan sisa yang sekecil- kecilnya. Dalam menentukan urutan ini pada dasarnya sambungan las tumpul yang mempunyai penyusutan yang besar didahulukan dan kemudian baru las sudut. Pada kontruksi yang besar biasanya pengelasan dimulai dari bagian tangah kontruksi menuju kesisi secara simetris. Pelaksaan dengan urutan ini akan dapat mengurangi deformasi.
d. Pemeriksaan dan perbaikan alur
Bentuk dan ukuran alur turut menentukan mutu lasan, karena itu pemeriksaaan terhadad ketelitian bentuk dan ukurannya harus juga dilakukan pada saat sebelum pengelasan. Dalam hal ini yang penting adalah calah akar, yang harus sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Kalau celah akar lebih besar dari pada spesifikasi maka harus diadakan perbaikan seperlunya. Cara perbaikanya tergantung dari pada besarnya celah dan jenis sambungannya.

e. Pembersihan alur
Ada dua macam cara dalam pembersihan kotoran, yaitu cara mekanik dengan menggunakan sikat kawat baja, penyemprotan pasir dsb dan cara kimia seperti penggunaan aseton, soda api dll. Di samping itu digunakan jugacara penyemprotan dengan api pada daerah yang akan dilas dan sekitarnya dengan tujuan menguapkan air, membakar minyak dan gemuk, menghembus terak dan karat dan merupakan pemanasan mula. Dalam hal ini akan sangat membantu bila permukaan atau sisi yang akan dilas, segera setelah alurnya dibuat ditutup dengan lapisan penahan karat yang tidak mengganggu kwalitas lasan.
C. perlakuan akhir dalam pengelasan
1. Perbaikan Cacat.
Setelah selesai pengelasan, hasil lasan harus diperiksa sesuai denagan cara- cara pemeriksaan yang telah ditentukan misalnya dengan radiografi, ultrasonik dll. Bila ternyata ada cacat yang melebihi batas spesifikasi maka perbaikan cacat harus dilakukan. Pengelasan perbaikan biasanya memerlukan kondisi dan prosedur yang lebih teliti, sebeb kalau tidak akan menyebabkan cacat yang lebih parah pada lasan sekitarnya. Berhubungan dengan ini maka las perbaikan hanya dilakukan bila hal tersebut benar- benar akan memperbaiki hasil lasan, sehingga cacat las yang tidak membahayakan biasanya tidak diperbaiki.
2. Pembebasan Tegangan Dan Perbaikan Perubahan Bentuk
Setelah selesai pengelasan biasanya terjadi tegangan sisa yang dapat menimbulkan perubahan bentuk. Karena hal ini pada hasil pengelasan tertentu perlu adanya proses pelepasan tegangan, misalnya pada bejana yang digunakan pada suhu rendah atau pada hasil las yang nantinya dilanjutkan dengan pemesinan.
D. Manajemen Dalam Pengelasan
Juru las yang terampil dan alat las yang baik saja belum menjamin hasil las yang bermutu tinggi, apabila sarana lainya tidak dipenuhi. Manajemen pengelasan dalam hal ini harus mengatur beberapa sarana penting yang dapat mempengaruhi hasil lasan seperti pelaksanaa yang aman, pemeriksaan mutu dan pemeriksaan proses. Dibawah ini akan diterangkan dengan singkat pengaturan yang berhubungan dengan hal-hal tersebut.

1. Pengamanan pelaksanaan
Agar pengelaasan dapat dilakukan dengan aman, alat-alat pengamanan harus lengkap dengan juru las harus mengerti dan dapat serta mau menggunakan alat pengaman tersebut. Dalam hal ini hal-hal yang penting adalah :
a. Pemakain baju kerja yang sesuai dengan aman.
b. Pemakain pelindung yang baik.
c. Pada pengelasan di tempat yang tinggi harus menggunakan alat pengaman agar tidak jatuh.
d. Pengamanan terhadap bahaya kebakaran dan ledakan.
e. Dll
2. Pengawasan mutu
Untuk mendapatkan mutu yang baik perlu adanya pengawasan pada alat-alat yang digunakan, bahan las yang dipilih, pelaksanaan dan ketrampilan
a. Pengawasan peralatan
Dengan menggunakan alat-alat yang sempurna akan diperoleh mutu lasan yang baik dan efisiensi kerja yang tinggi, karena itu diperlukan sistem manajemen yang dapat menentukan cara-cara pemilihan alat, pembelian alat, peminjaman alat kepada pekerja dan cara memperbaiki alat yang rusak.
b. Pengawasan bahan las
Pengaturan pembelian bahan las yang baik dalam jenis maupun dalam jumlah harus menjamin agar selalu terdapat jumlah persediaan seperti yang telah ditentukan dan yang sesuai dengan jadwal pelaksanaan. Lingkungan tempat penyimpanan bahan las yang harus baik sehingga tidak terjadi penyerapan uap yang akan menurunkan mutu hasil lasan.



c. Pengawasan pengelasan
Apabila proses pengelasan telah ditentukan, maka perlu untuk mengadakan pengawasan agar prosedur pengelasan diikuti sepenuhnya. Untuk mempermudah pengawasan dan menghindari kesalahan perlu dibuat petunjuk kerja yang terperinci yang meliputi kondisi pengelasan, penggunaan alat, pemakaian bahan, prosedur pengerjaan dan cara-cara mengadakan perbaikan bila terjadi cacat.
d. Pengawasan ketrampilan
Untuk mendapatkan juru las yang terampil perlu diadakan latihan dan pendidikan. Tiap-tiap juru las harus mempunyai kwalifikasi berdasrkan peraturan yang ditentukan oleh badan yang berwenag dalam bidang kontruksi yang sesuai dan menguasai pengetahuan tentang pengelasan.
e. Pengawasan proses
Pengawasan terhadap proses ditunjukan untuk mempertinggi produktivitas, yang berarti hasil yang baik dengan cepat dan murah. Pengawasan proses meliputi pengawasan pengaturan tempat, pengaturan pekerja, pengaturan bahan dan alat dll.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar